GUNUNGKIDUL, Kilasnusantara7.com || Prosesi pembukaan ritual adat Cupu Kyai Panjolo berlangsung khidmat di Padukuhan Mendak, Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, pada Senin malam (19/10/2026). Acara sakral ini disaksikan ratusan warga dan dicatat langsung oleh Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Mas Bekel Joyocahyoutomo, S.Pd.I. dan Fitri Cahyanto, S.Pd.I.
Ritual ini telah dijalankan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam, digelar setiap malam Selasa Kliwon pada bulan keempat penanggalan Jawa. Cupu Kyai Panjolo terdiri atas tiga buah guci kuno yang tersimpan di dalam peti kayu berukuran 20 × 30 × 15 cm. Guci-guci tersebut masing-masing diberi nama: Cupu Semar Kinandu (paling besar), Cupu Palang Kinantang (ukuran sedang), dan Cupu Kentiwiri (paling kecil).
Pada prosesi pembukaan ini, terungkap puluhan simbol dan gambar yang tertera pada lembaran kain mori pembungkus ketiga guci tersebut, antara lain: pulau Sulawesi, ikan berjumlah lima, gambar Kekayon, sosok perempuan, pasangan kakak-beradik, Semar, Garuda, perahu kecil, kepala kuda, gajah, serta angka dan berbagai sosok alam lainnya.
Beberapa hal yang juga menarik perhatian dalam prosesi kali ini antara lain: terdapat gambar ayam jago dan ayam betina pada lembar kain terakhir; dua lembar kain terasa lembap sementara sisanya kering; bagian penutup peti di sisi timur ditemukan berlubang; serta terlihat sisa kelopak bunga yang tampak gosong saat tutup dibuka. Sementara itu, ketiga guci dalam peti berada dalam posisi: Cupu Semar Kinandu berdiri tegak, Cupu Palang Kinantang berdiri tegak, dan Cupu Kentiwiri miring ke arah tenggara.
Ritual pembukaan ini bukan sekadar upacara adat semata, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan leluhur serta memaknai berbagai simbol yang diyakini mengandung pesan-pesan kehidupan bagi masyarakat setempat.
Red: PANGAT
Posting Komentar